
Kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah memperluas kemampuan para peretas dan pelaku kejahatan dunia maya. Sekarang, mereka bisa melakukan berbagai hal, mulai dari membuat video deepfake seorang CEO hingga menciptakan tanda terima palsu.
OpenAI, perusahaan AI generatif terbesar saat ini, menyadari ancaman tersebut. Sehingga, mereka baru saja berinvestasi di startup AI yang membantu perusahaan melindungi diri dari serangan semacam itu.
Adaptive Security yang berkantor pusat di New York telah mengumpulkan pendanaan Seri A senilai 43 juta Dollar AS yang dipimpin bersama oleh dana rintisan OpenAI dan Andreessen Horowitz, demikian yang diumumkan pada hari Rabu (2/4/2025).
Hal itu menandai investasi pertama OpenAI dalam perusahaan rintisan keamanan siber, OpenAI mengonfirmasi kepada TechCrunch.
Adaptive Security melatih karyawan perusahaan dengan mensimulasikan serangan berbasis AI. Misalnya, seorang karyawan bisa menerima telepon dari “CTO” perusahaan yang meminta kode verifikasi.
Namun, suara itu sebenarnya bukan dari CTO asli, melainkan hasil manipulasi AI yang dibuat oleh Adaptive Security untuk menguji kewaspadaan karyawan.
Selain melalui panggilan telepon, Adaptive Security juga mensimulasikan serangan lewat pesan teks dan email. Mereka menganalisis bagian mana dari perusahaan yang paling rentan dan melatih staf untuk mengenali potensi ancaman.
Perusahaan itu berfokus pada peretasan atau serangan yang mengharuskan karyawan manusia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan, seperti mengeklik tautan yang salah.
Peretasan “rekayasa sosial” semacam itu meskipun mendasar, telah menyebabkan kerugian besar.
Axie Infinity merugi lebih dari 600 juta Dollar AS karena tawaran pekerjaan palsu untuk salah satu pengembangnya pada tahun 2022.
Menurut Brian Long CEO dan salah seorang pendiri Adaptive Security, alat AI semakin mempermudah peretas melakukan serangan semacam ini. Adaptive, yang didirikan pada 2023, kini sudah memiliki lebih dari 100 pelanggan. Respon positif dari pelanggan inilah yang membuat OpenAI tertarik untuk berinvestasi.
Long sendiri bukan orang baru di dunia bisnis. Sebelumnya, dia mendirikan TapCommerce, startup iklan mobile yang dijual ke Twitter pada 2014 dengan nilai lebih dari 100 juta Dollar AS. Dia juga mendirikan Attentive, perusahaan teknologi iklan yang pada 2021 bernilai lebih dari 10 miliar Dollar AS.
Dengan pendanaan terbaru itu, Adaptive Security berencana merekrut lebih banyak insinyur untuk mengembangkan produknya dan terus bersaing dalam “perlombaan senjata” AI melawan para peretas.
Adaptive Security bukan satu-satunya startup yang menangani ancaman AI. Cyberhaven baru-baru ini menggalang dana 100 juta Dollar AS dengan valuasi 1 miliar Dollar AS untuk mencegah karyawan membocorkan data sensitif ke alat seperti ChatGPT.
Sementara itu, Snyk memanfaatkan maraknya kode yang dihasilkan AI namun kurang aman untuk meningkatkan pendapatannya menjadi lebih dari 300 juta Dollar AS. Ada juga GetReal, startup pendeteksi deepfake, yang baru saja mendapatkan pendanaan 17,5 juta Dollar ASbulan lalu.
Dengan ancaman AI yang semakin canggih, Long memberikan satu saran sederhana bagi karyawan yang khawatir suara mereka disalahgunakan oleh peretas, yaitu “Hapus voicemail Anda,” tandasnya.(dra/rid)