
Ingin puasa sunah Syawal, tetapi masih memiliki utang puasa. Umat Islam tidak dianjurkan melaksanakan puasa Syawal terlebih dahulu sebelum melunasi utang puasanya.
“Qada puasa Ramadan harus lebih didahulukan daripada puasa enam hari di bulan Syawal,” tulis Ustadz Sunnatullah dikutip NU Online, Rabu (2/4/2025).
“Ini berlaku bagi orang yang tidak puasa Ramadan karena uzur. Jika tidak ada uzur, maka tidak boleh puasa Syawal, dan wajib mengganti puasa Ramadan secepatnya,” tambahnya.
Sebagaimana diketahui, puasa enam hari di bulan Syawal memang merupakan anjuran dalam syariat Islam yang pahalanya setara dengan puasa setahun bagi orang yang melakukannya. Hal ini berdasar hadis Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Muslim berikut.
“Barangsiapa puasa Ramadan, kemudian ia sertakan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim).
Sementara itu, di sisi lain, mengganti puasa Ramadan yang pernah ditinggalkan merupakan kewajiban sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 184.
Artinya, “Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 184).
Orang yang tidak puasa Ramadan tanpa uzur atau disengaja tidak boleh baginya berpuasa Syawal tanpa mengqada puasa Ramadannya terlebih dahulu.
“Orang yang tidak puasa Ramadan tanpa uzur (disengaja), maka ia wajib langsung menggantinya setelah bulan Ramadan. Ini merupakan pendapat yang sahih menurut mayoritas ulama mazhab Syafiiyah,” tulis Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur mengutip pandangan Imam Nawawi yang termaktub dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab.
Sementara itu, orang-orang yang tidak puasa Ramadan disebabkan uzur seperti karena haid, sakit, atau dalam perjalanan, boleh baginya untuk puasa Syawal terlebih dahulu, karena kewajiban qada puasa Ramadan baginya tidak harus secara langsung. Namun boleh kapan pun yang penting tidak sampai memasuki bulan Ramadan berikutnya.
Berbeda dengan Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (wafat 974 H) menyebut makruh bagi orang yang mendahulukan puasa Syawal ketimbang mengqada puasa Ramadan, sekalipun batal puasanya karena uzur. Menurutnya, jika itu dilakukan, pahala puasa enam hari bulan Syawal tidak diperolehnya secara sempurna. Hal demikian sebagaimana ia tulis dalam kitabnya, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj.
Senada, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) juga lebih mengutamakan untuk mendahulukan qada puasa Ramadan dari puasa Syawal. Sebab, menurutnya, hal tersebut bisa mempercepat orang terbebas dari kewajiban mengganti puasa. Pandangan itu sebagaimana termaktub dalam kitabnya berjudul Lathaiful Maarif fima li Mawasimil Am minal Wazhaif.
Bahkan, Ibnu Rajab menyebut tidak akan mendapatkan pahala bagi orang yang mendahulukan puasa Syawal tetapi masih memiliki utang puasa Ramadan. Pasalnya, hadis tentang puasa Syawal hanya berlaku bagi orang-orang yang sudah menyempurnakan puasa Ramadan.
Oleh karena itu, qada puasa Ramadan lebih diutamakan untuk dilaksanakan terlebih dahulu. Setelah itu, barulah bisa dilanjutkan dengan puasa Syawal. Jika demikian, orang tersebut akan mendapatkan pahala puasa Syawal yang setara dengan puasa selama setahun. (nis/faz)