Sabtu, 29 Maret 2025

Makna Puasa dalam Islam: Lebih dari Sekadar Menahan Makan dan Minum

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Wanita muslim tengah membaca Al-Qur'an ketika sedang berpuasa. Foto: iStock

Siti Aisyah Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menjelaskan makna puasa dalam perspektif Al-Qur’an serta praktik yang berkembang di masyarakat.

Siti Aisyah menguraikan bahwa kata “shiyam” dalam Islam bermakna “imsak” atau menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan puasa.

Dia menyinggung tradisi yang berkembang di masyarakat, seperti pengumuman waktu imsak sebelum subuh yang bertujuan sebagai peringatan bagi umat Islam bahwa waktu berpuasa segera dimulai.

“Meskipun ada perbedaan pendapat terkait kebiasaan ini, tradisi tersebut tetap memiliki makna sosial dan edukatif bagi umat Islam,” ujar Siti Aisyah dalam laman resmi Muhammadiyah, Senin (17/2/2025).

Lebih lanjut, Siti Aisyah juga menjelaskan perbedaan antara istilah “shiyam” dan “shaum” dalam Al-Qur’an. Shiyam dalam konteks syariat merujuk pada ibadah puasa yang diwajibkan, sementara shaum dalam beberapa ayat Al-Qur’an mengandung makna menahan diri secara umum.

“Ini menegaskan bahwa esensi puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan diri dari berbagai hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam,” ucap Siti Aisyah.

Kajian yang disampaikan Siti Aisyah ini juga menyoroti makna puasa dalam kehidupan sosial. Ia menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga harus diikuti dengan sikap yang baik, seperti menjauhi perbuatan tercela, menjaga lisan, dan meningkatkan amal ibadah.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa orang yang berpuasa tetapi tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya. Hal ini menjadi pengingat bagi umat Islam agar menjalankan puasa dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Selain itu, pemateri juga membahas sifat universal puasa yang telah disyariatkan bagi umat-umat terdahulu. Dalam konteks ini, puasa tidak hanya menjadi bagian dari ajaran Islam, tetapi juga dikenal dalam tradisi agama-agama sebelumnya.

“Dari sisi psikologis, kesadaran akan universalitas puasa ini dapat memberikan motivasi bagi umat Islam dalam menjalankannya dengan lebih ringan dan penuh makna,” kata Siti Aisyah.

Siti Aisyah kemudian mengajak jamaah untuk tidak hanya fokus pada aspek fisik dalam berpuasa, tetapi juga memperhatikan aspek spiritual dan sosial. Puasa, selain sebagai ibadah, juga memiliki manfaat kesehatan yang telah diakui secara ilmiah, seperti detoksifikasi tubuh dan peningkatan keseimbangan metabolisme.

“Oleh karena itu, Ramadan menjadi momen penting untuk meningkatkan kualitas diri, baik secara individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” tutur Siti Aisyah. (dra/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Motor Tabrak Belakang Suroboyo Bus

Kebakaran Tempat Laundry di Simo Tambaan

Kecelakaan Mobil Listrik Masuk ke Sungai

Awan Lentikulari di Penanggungan Mojokerto

Surabaya
Sabtu, 29 Maret 2025
28o
Kurs