
Saat ini umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, dan telah memasuki hari ke-15. Lalu apa sebenarnya hikmah dari ibadah puasa itu sendiri? Khususnya ditinjau dari aspek pendidikan kesabaran yang membentuk pribadi bertakwa.
Fajar Rachmadhani, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyoroti bahwa puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan mendalam untuk menjadi insan yang sabar.
“Bayangkan, 14 jam kita tidak makan, tidak minum, menahan diri dari sesuatu yang halal di luar Ramadan, bahkan hubungan suami istri yang berpahala, hanya karena perintah Allah. Kita ternyata mampu. Kenapa? Karena kita bersabar,” ujar Fajar dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Sabtu (15/3/2025).
Ia mencontohkan, dari imsak hingga azan maghrib, puasa melatih umat Islam untuk mengendalikan hawa nafsu dan emosi, bahkan dalam situasi tak menyenangkan.
Fajar lalu mengutip sebuah riwayat seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amal paling dicintai Allah. “Nabi menjawab, ‘Berpuasalah, karena puasa tak ada tandingannya’,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa jawaban Nabi ini disesuaikan dengan kondisi penanya, yang mungkin seorang temperamental atau sulit bersabar. “Rasul cerdas. Setiap sahabat punya kebutuhan berbeda. Untuk yang emosional, puasa adalah jawaban terbaik karena melatih kesabaran,” tambahnya.
Mengacu pada Al-Quran, Fajar mengaitkan puasa dengan tujuan utama menjadi manusia bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: “Takwa itu salah satunya adalah sabar. Puasa mengajarkan kita menahan diri dari dorongan hawa nafsu,” paparnya.
Ia memberi contoh nyata: saat lapar dan panas, seseorang bisa tergoda melihat orang lain makan mie telur atau minum es kelapa muda, tetapi puasa mengajarkan untuk menahan diri.
Fajar kemudian memaparkan tiga jenis kesabaran menurut Ibnu Abi Dunya. Pertama, ash-shabru ala ath-thaah (sabar dalam ketaatan). “Ketaatan seperti salat, puasa, atau kuliah butuh kesabaran. Tanpa sabar, kita tak akan melangkah ke masjid atau kampus,” ungkapnya.
Ia menyebut puasa unik karena tak bisa dipamerkan, sebagaimana dijelaskan Al-Ghazali dalam Qashid ash-Shaum. “Salat, sedekah, haji bisa ‘dipublikasikan’, tapi puasa? Sulit dieksploitasi untuk riya. Itulah kemuliaannya, hingga Allah sandarkan langsung kepada-Nya dalam hadis qudsi.”
Kedua, ash-shabru alal-mashiah (sabar menahan diri dari maksiat). Fajar menegaskan, ini bukan sabar saat bermaksiat, melainkan menahan diri dari godaan dosa meski mampu melakukannya. Ia merujuk hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, salah satunya pemuda yang menolak ajakan zina dari wanita cantik karena takut kepada Allah. “Itu kesabaran sejati,” tegasnya.
Ketiga, ash-shabru alal-mushibah (sabar menghadapi musibah). Mengutip Al-Quran, “Innama yuwaffash-shabiruna ajrahum bighairi hisab” (hanya orang sabar yang diberi pahala tanpa batas), Fajar mencontohkan saudara-saudara di Jawa Barat yang menghadapi banjir di tengah puasa.
“Sabar atas ujian itu luar biasa pahalanya. Nabi bersabda, Innallaha idza ahabba qawman ibtalahu—Allah menguji hamba yang dicintai-Nya,” jelasnya. Ia menegaskan, ujian bukan tanda kebencian, melainkan kasih sayang Allah agar hamba kembali mendekat.
Fajar juga membagikan ungkapan mahfuzat: sabar itu pahit seperti getah, tapi ujungnya manis seperti madu. “Kuliah itu pahit, tapi lebih pahit mana dengan kebodohan seumur hidup? Pendidikan adalah investasi, bukan beban,” katanya, mengajak jamaah untuk bersabar demi masa depan.
Sebagai penutup, Fajar menegaskan bahwa puasa adalah ibadah istimewa dengan pahala tak terbatas, sebagaimana kesabaran itu sendiri. “Pahala salat, sedekah, tilawah dijelaskan detail, tapi puasa dan sabar? Unlimited. Bisa jadi kita masuk surga bukan karena salat atau haji, tapi karena sabar kita,” tuturnya. (nis/iss)