
China menolak menyetujui kesepakatan pemisahan aset TikTok di Amerika Serikat karena tarif impor baru yang diumumkan pemerintah AS terhadap barang-barang asal China.
Menurut laporan Reuters, kesepakatan tersebut sebenarnya sudah hampir final pada 2 April. Kesepakatan itu mencakup rencana pemisahan operasi TikTok di AS ke dalam perusahaan baru yang berbasis di Amerika, di mana mayoritas sahamnya akan dimiliki oleh investor AS.
Dilansir dari Antara pada Sabtu (4/5/2025), ByteDance sebagai induk perusahaan TikTok yang berbasis di China, disebut akan tetap memiliki 20 persen saham dalam struktur kepemilikan baru itu.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kesepakatan itu telah disetujui oleh para investor TikTok, baik yang lama maupun yang baru, serta oleh ByteDance dan otoritas Amerika Serikat.
Pada Jumat (4/4/2025), Donald Trump akan menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan TikTok terus beroperasi di AS selama 75 hari ke depan, seiring dengan negosiasi terkait akuisisi platform tersebut terus berlangsung.
Pada hari yang sama, ByteDance menyatakan bahwa pihaknya tengah berdiskusi dengan pemerintah AS untuk mencari solusi terkait keberlangsungan operasional aplikasi video pendek tersebut di wilayah Amerika.
Sementara itu, pada Rabu (2/4/2025) lalu, Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan tarif dasar sebesar 10 persen terhadap semua barang impor ke AS, yang mulai berlaku pada 5 April.
Selain itu, tarif yang lebih tinggi dan bersifat resiprokal akan diberlakukan pada 9 April untuk negara dan wilayah yang memiliki defisit perdagangan terbesar dengan AS.
NBC News juga melaporkan bahwa pengumuman Trump mengenai tarif resiprokal telah mengganggu kesepakatan atas divisi TikTok di AS, padahal sebelumnya kesepakatan itu disebut telah disetujui oleh pemerintah China. (ant/saf/iss)