
Seorang YouTuber asal Amerika Serikat bernama Mykhailo Viktorovych Polyakov (24 tahun) ditangkap karena diduga mengunjungi salah satu pulau adat paling terisolasi di Samudra Hindia.
Dilansir dari The New York Times pada Sabtu (5/4/2025), Polyakov melakukan perjalanan sendirian ke pulau terpencil North Sentinel di Samudra Hindia minggu lalu menggunakan perahu karet.
Ia membawa Diet Coke dan kelapa sebagai persembahan untuk suku terpencil yang tinggal di sana dan berharap dapat merekam pertemuan tersebut menggunakan kamera GoPro, menurut keterangan polisi India.
Berdasarkan data GPS miliknya, Polyakov mencapai pantai timur laut Pulau North Sentinel pada 29 Maret 2025 sekira pukul 10.00 waktu setempat.
Setelah mengamati daratan dengan teropong dan tidak melihat seorang pun, Polyakov memutuskan untuk naik ke daratan, meninggalkan Diet Coke dan kelapa di sana, mengambil sampel pasir, serta merekam video, kata polisi.
Polyakov ditangkap pada 31 Maret ketika ia kembali ke Port Blair, ibu kota Kepulauan Andaman dan Nicobar, yang terletak lebih dari 800 mil di timur daratan India.
Polyakov kini dihadapkan pada tuduhan berupaya berinteraksi dengan suku Sentinel, yang dapat mengarah pada hukuman hingga lima tahun penjara dan denda.
Tindakan Polyakov dianggap mengancam keselamatan suku tersebut, yang hidup secara terisolasi dan tanpa kontak dengan dunia luar, untuk melindungi cara hidup mereka yang tradisional.
Selama pemeriksaan, Polyakov mengungkapkan bahwa ia tertarik ke pulau itu karena “gairahnya untuk berpetualang” dan keinginannya menghadapi tantangan ekstrem.
Rekaman GoPro-nya menunjukkan bahwa ia memang mengunjungi pulau tersebut, dan ia menggunakan GPS untuk menavigasi perjalanannya.
Polisi juga menambahkan bahwa Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Amerika Serikat telah diberitahu mengenai penangkapannya.
Sementara itu, Polyakov diketahui memiliki saluran YouTube di mana ia merekam video petualangannya di berbagai lokasi ekstrem.
Perlu diketahui bahwa Pulau North Sentinel adalah wilayah yang dilindungi oleh hukum India, yang melarang interaksi dengan suku yang mendiami pulau tersebut.
Suku tersebut dikenal sebagai pemburu dengan busur dan anak panah, dan telah membunuh penyusup yang mencoba menginjakkan kaki di pantai mereka.
Pada tahun 2018, seorang misionaris Amerika bernama John Allen Chau, dibunuh oleh suku tersebut setelah mencoba mengunjungi pulau itu. Sebelumnya pada 2006, suku Sentinel membunuh dua nelayan yang secara tidak sengaja terdampar di pantai mereka.
Sementara itu, Survival International, sebuah organisasi yang melindungi hak-hak masyarakat adat, mengecam tindakan Polyakov. Mereka mengatakan bahwa upaya interaksi dengan masyarakat Sentinel adalah “ceroboh dan bodoh.”
“Pihak berwenang India memiliki tanggung jawab untuk melindungi suku Sentinel dari interaksi dengan orang luar,” tegas Caroline Pearce direktur kelompok tersebut. (saf/iss)