Selasa, 1 April 2025

Hilal Belum Terlihat, Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1446 Hijriah Tanggal 31 Maret 2025

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Kemenag Surabaya memantau hilal di Gedung One Icon Residence Surabaya, hasilnya tak terlihat, Kamis (20/4/2023). Foto: Meilita suarasurabaya.net

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag), hari ini, Sabtu (29/3/2025), menggelar Sidang Isbat untuk menentukan 1 Syawal 1446 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri 2025, di Kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Sidang Isbat yang dipimpin Nasaruddin Umar Menteri Agama (Menag), diawali dengan pemaparan tentang metode hisab dan rukyat.

Kemudian, para peserta Sidang Isbat mendengarkan laporan para pemantau fase bulan baru (Rukyatul Hilal) dari berbagai titik di 33 provinsi Indonesia.

Berdasarkan pemantauan para Rukyatul Hilal, tidak ada yang melaporkan melihat hilal.

Sedangkan merujuk data astronomi, tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia antara minus 3,26 derajat sampai minus 1,08 derajat, dengan elongasi antara 1,61 sampai dengan 1,21 derajat.

Karena hilal belum bisa terlihat, dan secara hisab belum memenuhi kriteria, maka puasa Bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari atau istilahnya Istikmal.

Dengan begitu, Pemerintahan menetapkan 1 Syawal 1446 Hijriah pada Senin (31/3/2025).

“Posisi hilal hari ini di seluruh Indonesia masih di bawah ufuk. Berdasarkan laporan para Rukyatul Hilal yang sudah dikonfirmasi Tim Penerima Laporan Rukyat Pusat, hilal tidak terlihat. Forum sidang sepakat, laporan rukyat yang masuk sesuai data hisab yang dihitung masih di bawah kriteria MABIMS, maka disepakati tanggal 1 Syawal 1446 Hijriah jatuh pada hari Senin 31 Maret 2025. Dengan demikian, terjadi Istikmal. Jadi, malam hari ini di seluruh wilayah Indonesia masih melaksanakan Ibadah Salat Tarawih,” papar Menag dalam sesi konferensi pers.

Seperti diketahui, Kemenag menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah berdasarkan metode gabungan penghitungan astronomi (hisab), serta pantauan langsung di sejumlah titik dengan teropong (rukyat).

Tahun-tahun sebelumnya, Kemenag mengacu pada kriteria hilal bulan awal Hijriah dengan ketinggian 2 derajat, serta sudut antara matahari dan bulan yang terilihat dari bumi (elongasi) 3 derajat.

Lalu, mulai tahun 2021, Kemenag RI menggunakan acuan yang disepakati bersama Menteri Agama Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Merujuk acuan baru tersebut, awal Bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijjah disepakati dengan indikator tinggi bulan yang terlihat minimal 3 derajat, dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Sebelumnya, Muhammadiyah sudah lebih dulu menetapkan awal Bulan Syawal 1446 Hijriah hari Senin tanggal 31 Maret 2025.

Penetapan tersebut berdasarkan hasil hitungan wujudul hilal yang dilakukan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.(rid/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Motor Tabrak Belakang Suroboyo Bus

Kebakaran Tempat Laundry di Simo Tambaan

Kecelakaan Mobil Listrik Masuk ke Sungai

Awan Lentikulari di Penanggungan Mojokerto

Surabaya
Selasa, 1 April 2025
26o
Kurs