
Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap tiga negara asing yaitu Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok menyebabkan nilai ekspor Jawa Timur sepanjang tahun 2015 melambat dibandingkan tahun sebelumnya.
Bulan Desember 2015, nilai ekspor Jawa Timur turun 3,16 persen dibanding bulan sebelumnya. Sedangkan secara kumulatif, nilai ekspor Jawa Timur bulan Januari-Desember 2015 juga turun 8,78 persen dibanding periode yang sama tahun 2014.
“Ekspor Jatim ke Tiongkok turun 21,75 persen, ke Jepang turun 11,82 persen, dan ke Amerika Serikat turun 6,23 persen pada tahun 2015 jika dibandingkan tahun 2014. Tingkat ketergantungan ekspor Jatim terhadap ketiga negara ini terlalu tinggi. Ini bukti ekspor kita kurang terdiversifikasi, sehingga ketika ketiga negara tersebut ekonominya sedang melambat, ekspor kita juga ikut melambat,” kata Sairi Hasbullah Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Jumat (15/1/2016) di Surabaya.
Dirinya mencontohkan, produk ekspor Jatim seperti perhiasan/permata ternyata tidak ikut melambat karena tidak memiliki ketergantungan terhadap ketiga negara tersebut.
Nilai ekspor perhiasan/permata pada bulan Desember 2015 lalu malah naik 13,74 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara secara kumulatif, nilai ekspor perhiasan/permata juga naik 12,29 persen sepanjang tahun 2015 dibandingkan tahun 2014.
“Ini karena negara tujuan ekspor perhiasan/permata Jatim variatif. Kalau ke Eropa pintu gerbang utamanya di Swiss. Perhiasan/permata juga diekspor ke Afrika Selatan dan India. Sehingga perhiasan/permata tidak tergantung dengan permintaan ketiga negara tadi,” katanya.
Tidak seperti perhiasan/permata, 8 golongan barang ekspor Jatim memang melambat nilai ekspornya sepanjang tahun 2015 lalu. Diantaranya adalah lemak dan minyak hewan/nabati (- 27,62 persen), kayu (- 0,10 persen), kertas (- 4,86 persen), bahan kimia organik (-37,95 persen), tembaga (-27,93 persen), daging (- 13,73 persen), perabot rumah (-2,33 persen), dan alas kaki (-9,80 persen).
“Bahan kimia organik itu MSG (Monosodium Glutamat) misalnya, itu tergantung sekali ekspornya ke Tiongkok dan Jepang. Padahal kedua negara itu lagi turun juga perekonomiannya sepanjang tahun 2015. Jadi nilai ekspornya juga ikut turun,” ujar dia.
Total ekspor migas Jatim sepanjang tahun 2015 lalu turun 20,31 persen, sedangkan untuk non migas juga turun 8,27 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2014.(dop/rst)