
Harga garam di sejumlah daerah sentra penghasil garam saat ini masih sangat rendah dan belum sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah.
“Di daerah kami ada yang terjual Rp200 per kilogram. Paling mahal Rp400 per kilogram,” kata Arifin Jamian peserta festival garam asal Lamongan kepada Antara di Pamekasan, Selasa (15/9/2015).
Ia menjelaskan, harga Rp200 per kilogram itu merupakan garam yang diproduksi di atas hamparan tanah, bukan garam yang menerapkan teknologi geomembran.
Jika hasil produksi garam yang menerapkan teknologi geomembran, kata Arifin, harga jualnya memang lebih mahal. Akan tetapi masih di bawah ketentuan harga yang ditetapkan Menteri Pedagangan.
“Kalau yang ditetapkan Menteri Perdagangan kan Rp750 per kilogram untuk kualitas I, sedang Rp550 per kilogram untuk kualitas II,” katanya.
Di Lamongan, tutur dia, belum ada garam petani yang terjual sesuai dengan ketentuan itu.
Tidak hanya di Lamongan, para petani garam dari daerah lain, juga mengaku sama. Seperti yang diakui Ahmad Badrut, petani garam asal Karawang, Jawa Barat yang juga datang ke Pamekasan mengikuti festival garam ini.
Badrut menuturkan, di Karawang, harga jual garam di tingkat petani dalam kisaran antara Rp300 per kilogram hingga Rp400 per kilogram.
“Tapi yang harga Rp400 per kilogram ini sulit, kebanyakan hanya Rp300 per kilogramnya,” kata Ahmad Badrut.
Oleh karenanya, para petani garam ini berharap agar pemerintah hendaknya melakukan intervensi pasar, agar ketentuan tentang harga jual garam rakyat bisa terlaksana.
Selain itu, petani garam ini juga meminta agar praktik impor garam saat panen garam sedang berlangsung agar dihentikan, sehingga tidak menyebabkan harga garam di tingkat petani rendah.
Para petani umumnya mengaku, rendahnya harga haram rakyat kali ini, salah satunya karena impor garam tetap berlangsung disaat petani sedang panen raya garam.
Secara terpisah Yoyok R Effendi Sekretaris Komisi Garam Pamekasan menyatakan, selain impor kebijakan pemerintah yang juga dinilai kurang berpihak kepada kepentingan petani garam ialah penggunaan garam industri untuk bahan pangan.
“Dulu kebutuhan garam untuk industri pangan ini kan dari garam konsumsi. Tapi saat ini dipasok dari garam industri,” katanya.
Kondisi ini, terang Yoyok yang juga menjadi salah pemicu, harga jual garam di tingkat petani rendah.(ant/iss/ipg)